Menjaga Warisan Budaya, Siswa Kelas IX MTs Nurul Islam Asah Keterampilan Membatik Langsung di DK Batik Madura
PenulisAhmad Syafiq Nasrullah
Editor(Red)
SUMENEP (AksaraDigdaya.com) Siswa kelas IX MTs Nurul Islam mengikuti praktik membatik di aula DK Batik Madura, Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, Kamis (15/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual untuk memperdalam pemahaman siswa mengenai batik melalui diskusi dan praktik secara langsung.
Kegiatan tersebut diikuti seluruh siswa kelas IX, para guru, serta Kepala MTs Nurul Islam, Nyai Nur Kholilah Mannan. Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias, mulai dari diskusi hingga pengenalan proses pembuatan batik.

Praktik di luar kelas ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal batik tidak hanya sebagai materi pembelajaran, tetapi juga sebagai warisan budaya yang mengandung nilai seni, keterampilan, dan identitas bangsa. Siswa diperkenalkan pada tahapan membatik serta pentingnya ketelitian, kesabaran, dan kreativitas dalam menghasilkan sebuah karya.
Pemilik DK Batik Madura, Moh. Toha, menyambut baik kunjungan edukatif tersebut. Ia menilai praktik langsung menjadi salah satu cara efektif untuk memperkenalkan batik kepada generasi muda.
“Kami sangat senang menerima kunjungan siswa MTs Nurul Islam. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak tentang proses membatik, sehingga mereka tidak hanya mengetahui batik dari buku, tetapi juga memahami bagaimana proses pembuatannya. Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap batik Madura sekaligus mendorong mereka untuk ikut melestarikan budaya lokal,” ujar Moh. Toha.
Kepala MTs Nurul Islam, Nyai Nur Kholilah Mannan, menyampaikan bahwa pembelajaran melalui praktik langsung memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik. Pendekatan tersebut diharapkan membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap kekayaan budaya daerah.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan wawasan baru bagi siswa tentang batik, khususnya batik Madura. Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman belajar secara langsung agar materi yang dipelajari di sekolah lebih mudah dipahami. Selain itu, kami ingin menanamkan rasa bangga terhadap budaya sendiri dan kesadaran bahwa melestarikan warisan budaya merupakan tanggung jawab bersama,” ungkap Nyai Nur Kholilah Mannan.
Pelaksanaan kegiatan ini mencerminkan upaya MTs Nurul Islam dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Kunjungan langsung ke tempat produksi batik memberikan ruang bagi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah dengan praktik nyata di lingkungan masyarakat.
Kolaborasi antara lembaga pendidikan dan pelaku usaha batik lokal diharapkan memperkuat pengenalan batik Madura kepada generasi muda. Kesadaran terhadap pelestarian budaya perlu ditanamkan sejak dini agar warisan leluhur tidak sekadar menjadi peninggalan sejarah, tetapi tetap hidup melalui pengetahuan, keterampilan, dan keterlibatan generasi penerus.












