RESPONSIVITAS MAMA MAU NAIK KELAS
Awalnya saya bertanya-tanya sendiri dalam benak terkait dengan kalimat mama mau naik kelas ini. Saya beranggapan bahwa mama yang mana, yang dimaksud dalam fokus ini? Selanjutnya kenapa mama mau naik kelas? Apakah mama masih sekolah dan belajar sehingga ia mau naik kelas. Lalu selama ini apakah mama tidak pernah naik kelas? Berangkat dari beberapa pertanyaan ini saya kemudian mencoba mencari tahu jawabannya dengan berselancar di google. Alhasil, saya mendapat jawaban yang jauh dari apa yang menjadi pertanyaan saya tersebut.
Mama Mau Naik Kelas ini ternyata merupakan sebuah akronim dari Madura Maju, Madura Unggul, Madura Naik Kelas yang dipusatkan peluncurannya di SMAN 1 Sampang yang merupakan satu inspirasi program dari Gubernur Jawa Timur untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan yang ada di Madura. Orientasi dari program ini nantinya dapat dilihat dari meningkatnya jumlah siswa lulusan dari SMA, SMK dan SLB yang memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi negeri melalui jalur SNBP/SNBT. Di samping itu, penguasaan literasi dan numerasi di sekolah nantinya juga akan meningkat.
Selain hal ini, disparitas pendidikan yang ditandainya dengan minimnya fasilitas yang bisa disediakan oleh sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak. Padahal dalam tataran dunia pendidikan pesantren, di Madura sangat dominan dan menjadi tempat pilar utama pendidikan moral dan agama yang berakar kuat dalam budaya masyarakat Madura. Kaitannya dengan fasilitas ini kemudian pemprov Jawa Timur merspon dengan aksi nyata untuk merevitalisasi sarana prasarana 60 SLB, SMA, dan SMK negeri maupun swasta se-Madura untuk mendukung pembelajaran. Sehingga arahnya untuk mewujudkan pendidikan yang lebih bermutu telah semakin nyata.
Strategi yang nanti akan dipakai oleh pemprov Jawa Timur adalah dengan mengadakan pilot project percontohan, mendata siswa-siswa yang sekiranya memiliki potensi yang lebih unggul dari teman-temannya, memberikan pendalaman dan intensifikasi materi UTBK, serta pelaksanaan try out mandiri secara berkala yang bisa dilaksanakan sendiri oleh sekolah ataupun bisa menggandeng lembaga lain agar lebih variatif.
Potret pendidikan di Madura yang dapat kita lihat saat ini adalah masih banyak angkat putus sekolah yang terjadi di masyarakat, fenomena siswa dan guru yang kurang terdistribusi dengan baik ke sekolah-sekolah, dan (bisa jadi) beralihnya orientasi masa depan siswa yang lebih mengarah pada dunia kerja untuk bisa hidup mandiri. Bukan lantas hal tersebut tidak baik jika ada siswa yang lebih memilih untuk langsung bekerja setelah lulus dari sekolahnya dengan menjadi penjaga toko di kota-kota besar. Hal ini memang karena Madura telah dikenal dengan pendapatan ekonuminya yang rendah, sehingga banyak di antara siswa lebih memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan tingginya.
Di sisi lain, saya juga menangkap bahwa beralihnya orientasi ini juga memberikan dampak yang kurang baik terhadap cara berfikit siswa. Mereka seolah-olah enggan untuk belajar dan berfikir keras guna menyelesaikan masalah yang diberikan guru di kelas. Sehingga ini (mungkin) yang menjadi fokus dari gubernur untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Madura agar nantinya memiliki daya saing dan tidak kalah dengan daerah lainnya.
Tentu kita (sebagai guru yang ada di Madura) harus merespon baik dengan adanya program ini. Saya juga melihat bahwa mama mau naik kelas ini harus dilkasanakan sebagai upaya untuk menyadarkan diri kita guna meningkatkan kualitas pendidikan yang ada di Madura ini. Kita memiliki tanggung jawab besar agar siswa yang ada di kelas sadar betapa pentingnya pendidikan untuk menopang masa depannya. Siklus pendidikan yang nantinya juga akan mereka wariskan pada generasi berikutnya bergantung dengan apa yang telah mereka pikirkan dan kerjakan hari ini. Dapat dipastikan bahwa gambaran masa dengan kita (baca Madura) akan ditentukan dengan generasi kita hari ini.
Disclaimer: Artikel ini sepenuhnya tanggung jawab penulis. Redaksi hanya fasilitator publikasi. Kirim Tulisan Anda →















